Monday, May 7, 2012

hehehehe

assalamualaikum,...

pelik la...blog saya bertukar jadi bahasa inggeris...kenapa??

hahahhah!!!!

Sunday, November 20, 2011

ABU UBAIDAH AL-JARRAH



Sahabat inilah yang pertama-tama dijuluki sebagai pemimpin para pemimpin (Amirul Umara). Dialah orang yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kanannya seraya bersabda mengenai dirinya,

إِنَّ لَكُمْ أُمَّةً أَمِيْنًا، وَإِنَّ أَمِيْنَ هذِهِ اْلأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ اْلجَرَّاحِ

Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Orang kepercayaan inilah yang disebut-sebut Al-Faruq radhiallahu ‘anhu pada saat akan menghembuskan nafas terakhirnya, “Seandainya Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu masih hidup, niscaya aku menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Rabb-ku bertanya kepadaku tentang dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya sebagai penggantiku’.”

Ia masuk Islam lewat perantaraan Ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Darul Arqam. Ia berhijrah ke Habasyah yang kedua. Kemudian kembali untuk berdiri di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm dalam Badar. Ia mengikuti peperangan seluruhnya, kemudian melanjutkan berbagai peperangan bersama Ash-Shiddiq dan Al-Faruq radhiallahu ‘anhuma.

Sikap yang ditunjukkannya dalam perang Uhud menjelaskan kepada kita bahwa ia benar-benar kepercayaan umat ini, di mana ia tetap menebaskan pedangnya yang terpercaya kepada pasukan kaum paganis. Setiap kali situasi dan kondisi perang mengharuskannya jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berperang sembari kedua matanya memperhatikan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertempur.

Di salah satu putarannya dan peperangan telah mencapai puncaknya, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhudikepung oleh segolongan kaum musyrikin. Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu kehilangan kesadarannya, ketika melihat anak panah meluncur dari tangan orang musyrik lalu mengenai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyerang orang-orang yang mengepungnya dengan pedangnya dan seolah-olah ia memegang seratus pedang, sehingga membuat mereka tercerai berai. Lantas ia berlari bak terbang menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darah beliau yang suci mengalir dari wajahnya, dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap darah itu dengan tangan kanannya seraya bersabda,

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ خَضَبُوْا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوْهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ

Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melumuri wajah Nabi mereka, padahal dia menyeru kepada Rabb mereka.” (Lihat, Tafsir al-Qurthubi, 4/ 199)

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menerangkan kepada kita tentang fenomena ini lewat pernyataannya, “Pada saat perang Uhud, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena lemparan sehingga dua bulatan besi menancap di dahinya, aku cepat-cepat menuju Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara ada seseorang yang datang dari arah timur berlari kencang seperti terbang, maka aku katakan, ‘Ya Allah, jadikanlah itu sebagai ketaatan.’ Ketika kami sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah datang lebih dulu daripadaku. Ia berkata, ‘Aku meminta kepadamu, dengan nama Allah, wahai Abu Bakar, biarkan aku mencabutnya dari wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun membiarkannya. Ubaidah mengambil dengan gigi serinya salah satu bulatan besi itu, lalu mencabutnya dan jatuh ke tanah, gigi serinya pun jatuh bersamanya. Kemudian ia mengambil sepotong besi lainnya dengan gigi serinya yang lain sampai jatuh. Sejak saat itu, Abu Ubaidah di tengah khalayak dijuluki dengan Atsram (yang terpecah giginya, atau jatuh dari akarnya).

Pada saat delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman mereka, dan meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengutus bersama mereka orang yang mengajarkan kepada mereka Alquran, Sunnah dan Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,

لأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلاً أَمِيْنًا، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ

Aku benar-benar akan mengutus bersama kalian seorang pria yang sangat dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 3/ 314)

Semua sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata persaksian ini menjadi keberuntungannya.

Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak menyukai suatu jabatan pun sebagaimana aku menyukainya pada saat itu, karena berharap akulah yang bakal memperolehnya. Aku pergi untuk shalat Zhuhur dengan berjalan kaki. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Zhuhur bersama kami, beliau mengucapkan salam, kemudian memandang ke kanan dan ke kiri. Aku menegakkan punggungku agar beliau melihatku. Tapi beliau terus mengarahkan pandangannya hingga melihat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda,

اُخْرُجْ مَعَهُمْ، فَاقْضِ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ

Keluarlah bersama mereka. Putuskan perkara di antara mereka dengan haq dalam segala hal yang mereka perselisihkan’.

Akhirnya, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu pergi bersama mereka.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu berjalan di bawah panji Islam. Sekali waktu ia bersama para pasukan biasa, dan pada kesempatan yang lain bersama para panglima. Sampai datanglah masa Umar radhiallahu ‘anhu, ia menjabat sebagai panglima pasukan Islam di salah satu peperangan besar di Syam. Ia mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peperangan ini, hingga ia menjadi hakim dan gubernur negeri Syam, dan perintahnya ditaati.

Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengunjungi Syam, dan bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, “Di manakah saudaraku?” Mereka bertanya, “Siapa?” Ia menjawab, “Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu datang, Umar memeluknya. Kemudian Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu membawa Umar radhiallahu ‘anhu ke rumahnya. Di dalam rumah tersebut, Umar tidak melihat sedikit pun perkakas rumah tangga, kecuali pedang, perisai dan untanya. Umar radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya sembari tersenyum, “Mengapa engkau tidak memiliki sesuatu untuk dirimu sebagaimana dilakukan orang lain?” Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhumenjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, inilah yang bisa mengantarkanku ke akhirat.”

Pada suatu hari, pada saat Al-Faruq Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berada di Madinah, seorang informan datang kepadanya untuk mengabarkan bahwa Abu Ubaidah telah meninggal dunia. Mendengar hal itu, Al-Faruq radhiallahu ‘anhu memejamkan kedua matanya dalam keadaan penuh dengan air mata. Air mata pun mengalir, lalu dia membuka kedua matanya dalam kepasrahan. Ia memohonkan rahmat Allah untuk sahabatnya dalam keadaan air mata mengalir dari kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata mengalir karena kematian orang-orang yang shalih. Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya aku boleh berangan-angan, maka aku hanya mengangankan sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal Abu Ubaidah.”

Kepercayaan umat meninggal dunia di atas bumi yang telah dibersihkannya dari paganisme Persia yang beragama Majusi dan dari keangkara murkaan Romawi. Di sana pada hari ini, di bawah tanah Yordan, jasad yang suci dikebumikan. Ia menjadi tempat bagi ruh yang baik dan jiwa yang tentram.

Wednesday, August 11, 2010

BAHAIA!!!1



bismillah...
dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

afwan jiddan sudah lama x update blog nie..
masuk je tgk dah bersarang dah segala serawang and mcm2 habuk terlekat..
kena mop, lap, sapu and polish. kira mlm nie I jadi makcik cleaner la hehehe..

apa khabar sahabat di luar sane??harapnya iman dan tubuh badan masih utuh dah kukuh insyaAllah...

ermm..dan satu benda yang tak lupa nak ucapkan selamat menyambut ramadhan kareem..marilah sama2 kita meraikan ramadhan ini dengan memperbanyakkan ibadah dan zikir kepada Allah..

bahagiakan??
apa yang bahagianya tu cik adik..?ermm..bahagia sambut bulan penuh barokah nie..rasa lain sgt bangun pagi tadi..rasa bersemangat..segar..penuh barokah..alhamdulillah masih dapat merasa ramadhan tahun ini..

jadi untuk apa dipergunakan rezeki ini??
i'allah macam2 azam dah diatur cuma perlu laksanakan je..harapnya dapat buat la segala azam2 saya tue..tak semua, sikit pun jadi la..



satu benda lagi nak ucap tahniah juga pada sahabat2 saya yang dah selamat konvo sehari lepas.
huhu terharu tengok mereke semuanya eppy...
i'allah tahun hadapan saye puleee....doakan ye..

Tuesday, April 27, 2010

perubahan hati..

Titik tolak awal kita adalah dari dalam. Luaran hanya pengikut, patuh dan ‘islam’ dengan kehendak dalaman.
Oleh itu mereka yang tidak memahami ‘kaedah’ ini akan terumbang ambing dan terkagum dengan perubahan luaran yang berlaku. Tetapi tiba waktunya akan ter’kejut beruk’ dengan suatu yang tidak disangka-sangka sebaliknya berlaku.
Allah telah menceritakan sunnahNya ini di dalam kitab pedoman kita di jalan ini:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum itu sehingga mereka mengubah apa yang ada di dalam diri mereka. (13:11)

Apa yang ada di dalam diri?
Ianya adalah hati, perasaan, sikap, pandangan, tasawwur, diri atau katakanlah apa sahaja. Yang penting ianya bukan tangan, kaki, mulut, hidung, mata atau apa sahaja anggota zahir. Anggota zahir hanya mengikut kehendak hati dan perasaan. Oleh itu bila seseorang manusia telah berjaya mengubah hati manusia, maka ia telah berjaya mengubah manusia itu.

Ar-Rasul saw juga telah memaksa kita untuk memahami hal ini.
Ertinya:
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad manusia itu ada seketul darah. Apabila ia baik , maka akan baiklah seluruh jasad. Apabila ianya rosak, maka akan rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah.. ia adalah hati.

Usaha awal ar-Rasul saw telah membuktikan hal ini. Fokus Rasul saw bukan pada meruntuhkan berhala batu dan kayu yang disembah oleh orang Quraisy. Berhala-berhala itu adalah dibina oleh tangan-tangan setelah di’suruh’ oleh hati-hati yang sesat dan tidak mengenali tuhan yang benar. Dan tangan-tangan itu tidak bersalah kerana ia menurut perintah ‘tuannya’.
Oleh itu, jika berhala yang diruntuhkan, manusia-manusia berhati ‘syirik’ itu akan membina berhala-berhala lain samada kayu, batu, besi, wanita, pangkat, duit dan lain-lain.

oleh itu kita janganlah asyik hendak menghukum orang itu tak pakai tudung..orang nie salah..kita yang harus membimbing mereka ke arah syariatullah..

Wednesday, February 3, 2010

Thursday, December 24, 2009

semangat baru

~~BISMILLAH~~

YA ALLAH…..aku sungguh2 terasa kini. aku jauh dariMU..Sempena tahun baru, semester baru aku ingin perbaharui azam2 pada diri ini Tuhan…Ya Allah berikanlah kekuatan padaku menempuhi segala onak-duri kehidupan dunia yang penuh pancaroba ini…
Ku titipkan disini sebuah kata2 yang sangat mngesan jiwaku saat ini..
Cerita dakwah adalah cerita indah,
Jalannya penuh liku dan cabarannya menntut pengorbanan,
Tidak ada yang lebih indah dalam hidup seorang daei apabila dengan izin Allah orang yang didakwah berubah, daripada bersikap negative terhadap Islam menjadi orang yang taat beragama..
Syaratnya..lahirkanlah keikhlasan dalam diri, usaha yang tak pernah kenal jemu, tingkatkanlah ilmu dan pengalaman dalam dirimu..

Semakin kerap kita mendekati mad’u semakin banyaklah pengalaman yang akan kita kutip untuk diri kita..maka akan semakin dewasalah dirimu dalam memahami hakikat dakwah itu..
Sebaliknya jika hanya sekali dalam semingg engkau menemui mad’umu maka proses tarbiyah mad’u dan juga dirimu akan menjadi lambat. Engkau akan jauh kebelakang berbanding sahabat2 yang lain..
Ayuhlah memperkasakan lagi gerak kerja dakwah kita!!
Allah adalah matlamat kita,
Rasulullah teladan kita,
Al-quran pedoman hidup kita,
Jihad adalah jalan juang kita,
Syahid adalah cita-cita tertinggi kita!!!